Sejarah Desa Selat

  • Dibaca: 1211 Pengunjung

  Desa Selat       Kata “Selat” banyak dipakai sebagai nama desa di banyak tempat. Kalau kita amati secara lebih dekat, maka semua desa yang bernama “Selat” selalu ada di wiayah perbatasan, khususnya wilayah perbatasan kerajaan atau kekuasaan. Contoh contoh desa yang bernama Selat: Desa Selat Kuwum ada di perbatasan wilayah perbatasan kerajaan Mengwi dengan kerajaan Tabanan, Desa Selat Duda Karangasem, Desa Selat Klungkung adalah perbatasan wilayah kekuasaan kerajaan Klungkung dengan kerajaan Karangasem. Dan banyak lagi nama desa Selat di Bali. Desa Selat Abiansemal adalah perbatasan wilayah kerajaan Mengwi dan Kerajaan Klungkung.
Penduduk Desa Selat dahulunya mendiami wilayah Desa Gerana yang terletak di Barat Laut Desa Selat . Kemudian di tahun 1890 ada peralihan kekuasaan dimana seuruh wilayah Mengwi sudah dikuasai oleh Kerajaan Badung yang berpusat di Denpasar. Desa Adat Selat dan Desa Adat Gerana termasuk Desa Blahkiuh, diserahkan kepada  kekuasan Raja Carangsari yang merupakan saudara Raja  Mengwi pada saat itu yang bernama I Gusti Agung Nyoman Kaler (1890-1992).
Setelah terjadi perdamaian antara kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung maka terjadi kesepakatan batas-batas wilayah. Wilayah Carangsari dikuasai oleh Kerajaan Badung. Wilayah-wilayah yang dulunya pernah diserahkan ke Carangsari kemudian dikembalikan ke kekuasan Mengwi dan perintah dari kekuasan Raja Abiansemal.
Untuk memperjelas wilayah kekuasaan dan kesetiaan penduduknya maka pada tahun 1901 diadakan pertukaran peduduk, dimana penduduk yang menjadi wilayah kekuasaan Mengwi dipindahkan ke Bagian Timur, karena kerajaan Mengwi tunduk ke kerajaan Klungkung sedangkan penduduk yang wilayahnya sudah dikuasai oleh Kerajaan Badung dipindahkan ke sebelah Barat. Penduduk Desa Selat yang dulunya ada di Desa Adat Gerana adalah wilayah Mengwi yang condong ke kerajaan Klungkung makanya dipindahkan ke bagian Timur.
Penduduk-penduduk yang dipindah adalah sebagai berikut:
1.    Banjar Pacung wilayah Blahkiuh dipindahkan ke Gerana, yang ditempatkan di sebelah barat sekarang bernama banjar Pacung.
2.    Penduduk Banjar Tegal Gerana bersama Puri Gerana dipindahkan ke Selat, yang menjadi Banjar Tegal Selat,  
3.    Penduduk Banjar Batu Lumbang dipindahkan menjadi Penduduk banjar Adat Selat dan sebagian pindah ke Desa Adat Sangeh yang kemudian menjadi banjar Batu Sepih, dan sekarang menjadi Banjar Batu sari Sangeh.

Selain penduduk Desa Adat Selat yang ditukar dengan Desa Adat Gerana, pertukaran juga terjadi antara Desa Adat Samuan dengan Desa Adat Bongkasa.
Memasuki era penjajahan Jepang, penduduk Desa Gerana terpisah berdiri sendiri menjadi satu perbekelan, sedangkan Desa Selat, Taman dan Punggul menjadi satu perbekelan dengan pemerintahan berpusat di Desa Selat. Kemudian pada masa Kemerdekaan tahun 1945, Sangeh dan Selat menjadi satu perbekalan. Sementara Gerana bergabung dengan Samuan. Pada tahun 1945, Desa Sangeh, Selat dan Gerana mejadi satu perbekelan, dengan pemerintahan berpusat di Sangeh.
Mengingat wilayah Desa Dinas Sangeh sangat luas dan banyaknya penduduk, maka untuk pelayanan yang dekat dan cepat, maka dipandang perlu untuk pemekaran menjadi dua daerah pemerintahan dinas, yaitu, Desa Sangeh dan Desa Selat, dengan surat keputusan Bupati Badung No. 342 Tahun 2002 tanggal 12 Maret 2002, Desa Selat menjadi Desa Dinas Selat dan terpisah dengan Desa Dinas Sangeh. Perbatasan wilayah kedua desa adalah sebuah aliran sungai kecil antara kedua desa, yaitu Sungai Yeh Adeng.

Sumber : Biro Humas Provinsi Bali

  • Dibaca: 1211 Pengunjung